7 Oktober 2010

Guru-Guru Gaptek

“Pak Dodik, kok fotonya bisa muncul di internet?” seorang rekan kerja memandangku dengan takjub dan terpesona.
“Pak Dodik dulu kuliah dimana?” tanya seorang yang lain.
Aku hanya tersenyum kecil saat membuka fasilitas internet, koprol di komputer sekolah. Fasilitas internet yang ada di sekolah, ternyata masih awam buat guru-gurunya. Seorang staf Tata Usaha pernah bertanya padaku, bagaimana cara mengirim email dan menyisipkan naskah. Bahkan saat aku mendapat sebuah gambar dari internet, beberapa guru melihat dengan keheranan.
Beragam rasa mengaduk hatiku. Kecewa dan sedih. Kecewa, karena seharusnya ada pelatihan buat guru-guru yang belum bisa menggunakan internet. Sedih karena teringat murid-murid yang terbiasa menggunakan internet di rumahnya.
Internet sebenarnya bukan barang baru. Tapi kalau mau di survey, berapa persen sih guru yang “melek” internet? Sebagian kecil yang sudah bisa membuka internet hanya memanfaatkan fasilitas tersebut untuk mencari bahan pendukung sumber belajar. Tapi tidak tahu bagaimana cara mengirim email apalagi mengetahui tentang blog dan fasilitas internet yang lain.
Menurutku, di zaman high technology seperti sekarang ini, para guru seharusnya bisa menggunakan internet. Minimal menerima dan mengirim email. Mengapa? Karena internet sudah menjadi kawan akrab anak didik kita. Mereka lebih rajin mencoba-coba, buka situs ini atau situ situ. Mencoba menggunakan FB, koprol atau punya blog.
Sebagai guru yang baik, kita bukan hanya mengajar tapi juga mendidik. Dalam hal mendidik ini, seorang guru bukan hanya sebagai orang yang memberi perintah, tetapi juga sahabat. Yang berarti, setidaknya kita harus tahu dunia mereka. Seperti dunia internet. Di sana banyak informasi-informasi terbaru yang seharusnya kita ketahui. Jangan sampai sebagai guru, kita seperti katak dalam tempurung.
Internet bisa mendekatkan hubungan guru dengan murid. Contohnya, seorang temanku yang mengajar TIK di sebuah SMA di kawasan Bandung. Temanku menggunakan fasilitas koprol-sebuah jaringan pertemanan-lalu para muridnya berdatangan ke alamat koprol yang dimiliki oleh gurunya tasi. Istilahnya jadi contact. Di situ situ, para muridnya memberikan penilaian, kesaksian, komentar tentang guru TIKnya itu. Dari sana, temanku jadi tahu bagaimana tanggapan murid-murid terhadap dirinya.
Aku tidak bisa membayangkan jika hidup tanpa internet. Pasti aku akan tertinggal aneka informasi dan menjadi “tidak gaul”. Internet sangat bermanfaat bagiku, sebagai bahan referensi mengajar dan merekatkan hubungan dengan murid-murid.
Seharusnya ada gerakan guru anti gaptek yang didukung diknas. Guru-guru diberikan pelatihan, sekolah-sekolah dipasang internet dan guru-guru diberi kebebasan untuk menggunakannya. Tentu saja menggunakan hal-hal yang baik.
Kalau para guru menguasai internet, mereka bisa memberi pengarahan pada murid-murid tentang situs apa saja yang sebaiknya dibuka dan situs serta fasilitas apa saja yang sebaiknya jangan digunakan. Bagaimana dengan Anda ?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar