29 Desember 2010

Habis Manis Sepahmu Kubuang Saja

Sekitar tahun 1999 ketika saya mengantar salah seorang teman untuk membeli sebuah PC di seseorang, saya dipertemukan dengan MI (salah satu guru senior yang ada di salah satu SMA ternama). Ketika itu saya ditanya "Mas bisa ngajar komputer program windows?" tanyanya singkat."Bisa" jawabku singkat."Kalau begitu besok pagi datang ke sekolah temui saya" terangnya kembali.
Keesokan harinya saya menuju sekolah yang dimaksud dengan membawa beberapa dokumen dan surat lamaran yang dibutuhkan. Ketika bertemu dengannya saya dijelaskan beberapa hal diantaranya yang paling saya ingat adalah alasan kenapa sekolah tersebut mengambil instruktur dari luar yaitu karena kemampuan guru yang ada untuk mengajar komputer tidak ada (tidak ada yang bisa). Akhirnya saya putuskan untuk menerima tawaran tersebut meskipun kalau dihitung secara penghasilan sangatlah tidak masuk akal, saya ingat waktu itu HR saya Rp. 49.000,-. Akhirnya lama-kelamaan saya tertarik dan mulai mencintai pekerjaan saya ini, bahkan beberapa kali kami (saya dan beberapa teman instruktur lain) harus pulang larut malam bahkan bermalam disekolah untuk mengatur kembali laboratorium yang ada mulai dari instalasi komputer, ruangan, bahkan beberapa perangkat lainnya.
Seiring bergantinya waktu akhirnya ada perubahan masalah HR yang saya terima yang semula Rp. 49.000 berubah menjadi Rp. 450.000 itupun setelah hampir 3 tahun bekerja.
Waktu terus berjalan dan tanpa saya sadari ternyata posisi kami di sekolah tersebut "dianggap tidak ada". Saya sempat kaget ketika ada pendataan dari Dinas terkait dengan tenaga pendidik yang ada, ternyata nama saya dan teman-teman saya yang satu tim tidak ada di SK mengajar. Kamipun sempat bimbang dan ragu akan masa depan kami, tapi bagaimana lagi....
Sejak saat itulah berbagai masalah datang, mulai dari anggapan kalau tempat kami adalah tempat yang paling "basah", HR yang terlalu besar dan berbeda dengan GTT yang lain padahal kalau dihitung sudah hampir 3 tahun terakhir ini kami bekerja hanya dibayar 1/2 dari HR yang seharusnya kami terima, sampai pertanyaan "kamu itu apanya si....".
Dulu saya pernah diberikan tawaran akan diikutkan pengangkatan CPNS, akan diusahakan pengangkatannya, akan diusulkan jadi guru bantu dan "usaha" lainnya yang sampai hari ini tidak ada realisasinya sama sekali. Pernah ada PNS baru yang akan ditempatkan di laboratorium komputer untuk mengajar TIK, waktu itu saya dipanggil oleh Kepala Sekolah terkait dengan masalah itu bahkan saya disarankan untuk mencari penghasilan dari tempat lain karena ada PN baru yang itu adalah keputusan Dinas dan sekolah tidak bisa menolak. Padahal dengan masuknya guru PN baru maka penghasilan kami akan berkurang dan ketentuan mengajar 24 jam bagi kami secara otomatis juga akan berkurang yang juga akan mempersulit kami untuk mendapatkan TF dari pemerintah.
Ya...saya hanya berharap semoga atasan saya kali ini lebih bijaksana, lebih arif dalam mengambil keputusan. Keputusan yang diambil berdasarkan pertimbangan yang matang bukan karena "bisikan" dari segelintir orang yang tidak suka pada saya atau tim saya. Karena kami bukannya ingin dihormati, yang kami inginkan hanya kami ingin DIHARGAI, bukankah ada pepatah "Hargai orang lain, kalau kamu ingin dihargai".
Sampai saat ini kami belum tahu kejelasan nasib kami, padahal tugas saya sama seperti guru-guru yang lainnya yaitu mencerdaskan anak bangsa, jam kerja saya juga sama, akan tetapi ketika guru PN sibuk sertifikasi, sibuk ngurus LP perjuangan pihak sekolah begitu besar, akan tetapi ketika saya dan teman-teman PTT yang dapat giliran mau mengurus kesejahteraan mereka seolah-olah tidak mau tahu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar